NANGA PINOH. Meningkatkan minat masyarakat, Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Melawi memberikan pencerahan bagi guru dan siswa se-Kabupaten Melawi. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Arpusda Melawi, Rabu, (24/) kemarin. Terungkap, minat baca masyarakat masih rendah. Membaca sebenarnya sudah jadi kebutuhan mendasar, sama seperti kebutuhan akan makan, pakaian, dan lain sebagainya. Tetapi sebagian besar orang Indonesia, belum sampai pada tahap menjadikan kegiatan membaca. Jadi kebutuhan yang mendasar, ungkap, Dr M Syukri, salah seorang staf pengajar di FKIP Untan. Dipaparkan Syukri, walaupun data statistik mencatat 84 persen penduduk Indonesia sudah melek huruf. Namun menumbuhkan budaya membaca, relatif cukup sulit dalam dunia pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan, masyarakat lebih banyak tertarik dan memilih untuk menonton TV mendengar radio. Dari keseluruhan masyarakat yang ada 85,9 persen lebih senang menonton TV dan mendengarkan radio 40,3 persen. Sementara membaca koran hanya 5 persen. Selain itu data Internasional Education Achiecment (IEA) menyatakan, kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 Negara peserta studi. Ini menunjukkan, betapa rendahnya minat baca masyarakat, khususnya anak-anak SD, jelasnya. Lebih lanjut Syukri mengungkapkan, hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan Education in Indonesia From Cricis to Recovery. Dalam laporan itu menunjukkan, kemampuan membaca anak-anak kelas VI SD hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7. Setelah Filipina yang memperoleh nilai 52,6. kemudian diikuti Thailand, dengan nilai 65,1. Berikutnya Singapura dengan nilai 74,0 dan Hong Kong yang memperoleh nilai 75.5. Bukan itu saja, Syukri juga menunjukkan fakta lain, yakni konsumsi satu surat kabar di Indonesia 1 berbanding 45 orang. Sri Langka sudah 1 berbanding 38 orang. Untuk Filipina 1 banding 30 orang. Idealnya satu surat kabar, dibaca oleh 10 orang atau dengan ratio 1 banding 10 orang. Dari sisi lain jam bermain anak-anak Indonesia masih tinggi. Mereka lebih suka melihat acara TV, ketimbang membaca. Bila di Negara Amerika Serikat, jam bermain anak-anak antara 3 hingga 4 jam setiap harinya. Bahkan di Korea dan Vietnam, jam bermain anak-anak hanya satu jam. Selebihnya mereka pergunakan untuk belajar atau membaca buku, sehingga tidak heran budaya baca sudah demikian tinggi, terangnya. Syukri menilai, rendahnya minat baca di Indonesia. Karena membaca, belum menjadi kebutuhan hidup dan budaya bangsa. Sebab itu, membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa. Syukri menegaskan, perilaku masyarakat perlu diubah. Untuk merubah budaya masyarakat, memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi. Namun semua itu, tergantung dari political will pemerintah dan masyarakat. Ada pun ukuran waktu sebuah generasi, adalah berkisar sekitar 15 hingga 25 tahun. Agar tidak terlalu lama perlu dicari solusi, melalui program aksi untuk percepatan menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat, sarannya. Di tempat yang sama, Kepala Kantor Arpusda Drs Aimolnija mengatakan, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari kegiatan Bimtek pengelolaan perpustakaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pencerahan betapa pentingnya membaca. Diharapkan motivasi minat baca masyarakat Melawi dapat semakin meningkat. Caranya memanfaatkan buku-buku yang ada di perpustakaan Daerah Melawi, perpustakaan di sekolah dan di perpustakaan di setiap instansi-instansi atau unit, ingatnya. (aji)
Sumber www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=10681
By Erman







0 komentar:
Poskan Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, mudah-mudahan bermanfaat. Jangan lupa berkomentar ya.